Tren Plagiarisme - Kurangnya Kreativitas?
Belakangan ketika meramban blog, saya temukan beberapa tren yang sedang naik daun di Indonesia. Sayangnya, salah satunya membuat saya miris. Plagiarisme.
Bayangkan, ada beberapa blog yang berisi nol besar konten yang unik. Semuanya hasil copy and paste dari situ berita terkenal.
Memang ada dicantumkan sumber, tapi tidak ada taut ke halaman berita sumber. Seperti yang kita ketahui, taut itu mata uang dari keseluruhan Web. Dan untuk memberikan taut pun gratis, jadi sepertinya tindakan ini disengaja agar tidak mengirimkan pengunjung ke berita sumber.
Pemilik blog ini cukup cerdas dalam promosi. Saya tidak akan jabarkan metodenya karena malah nanti dikira mempromosikan cara ini. Setelah pengunjung datang, tentu saja pemilik blog dapat menjual ruang iklan.
Luar biasa.
Tidak ada satu pun orang yang protes. Bahkan komentar tidak menunjukkan bahwa ada yang curiga mengapa tidak mempublikasikan ringkasan saja dan memberikan tautan ke sumber. Ya, setiap halaman berisi berita lengkap.
Apakah tren plagiarisme ini sedemikian diterima oleh masyarakat Indonesia?
Saya rasa ini karena kurangnya kreativitas. Berita-berita belakangan mengenai basahnya bisis online membuat orang beramai-ramai mencoba klaim bagian kuenya. Tentu saja akibatnya dapat ditebak. Ada sebagian manusia yang menghalalkan segala cara demi uang.
Terus terang, saya tidak kuatir dengan metode ini. Tentu ini bukan model bisnis yang sustainable.
Tulisan ini hanya keluh-kesah tentang jalan pintas yang lebih disukai sebagian orang daripada membangun bisnis yang susungguhnya.
Saya pernah ungkapkan hal ini kepada seorang teman dan tanggapan beliau adalah, “Jangan terlalu idealis. By the time kamu baru mulai mendapatkan uang dari blog atau situs kamu, plagiator ini sudah menikmati puluhan bahkan ratusan juta.”
Benar juga. Tapi kalau motivasi seseorang hanya uang, kesuksesan tidak akan langgeng. Motivasi seseorang sebaiknya berdasarkan pada apa yang dinikmati. Jika anda menulis blog untuk topik yang anda sukai, bukankah itu sudah berarti sukses?
Ini mengingatkan saya tentang buku Don’t Eat the Marshmallow… Yet!.
Dalam buku ini, penulis bercerita tentang Arthur, seorang yang supir dengan intelektual tinggi bawaan lahir. Jonathan tidak sepintar Arthur, bekerja sama keras, tapi adalah seorang milyuner (dolar, bukan rupiah). Jonathan duduk di belakang limusin yang disupiri Arthur. Mengapa Jonathan lebih sukses / kaya?
Sebuah studi yang dilakukan Universitas Stanford terhadap anak-anak yang dapat menunda kesenangan dalam bentuk marshallow. Masing-masing anak diberikans ebuah marshmallow lalu dijanjikan sebuah marshmallow tambahan bila mereka tidak makan marshallow pertama dalam waktu 15 menit.
Telah dibuktikan bahwa sepuluh tahun kemudian, anak yang tidak tergiur untuk langsung memakan jauh lebih sukses dari anak-anak yang langsung memakan jatah mereka, walaupun dijanjikan marshmallow tambahan 15 menit kemudian.
Apakah anda dapat menunda memakan marshmallow itu?

Bang Hendry,
saya pribadi dari sisi nonprofit hanya menyesalkan kerugian yang mungkin timbul sebagai pengguna mesin pencari Internet. Lebih sreg jika tulisan yang saya baca adalah sumber terdekat, jika bukan sumber primer.
Apakah Google, dkk bisa menentukan mana tulisan salin tempel, mana yang asli, pada kondisi seperti tulisan di atas?
Dan ya, mengapa tautan sumber tidak dibuat lebih aksesibel dan usable, yaitu dibuat clickable. Mengenai pemakaian nofollow atau tidak, bisa saya abaikan dulu. Apakah memang plagiator itu:
1) begitu perhitungannya dengan kebocoran outlink,
2) tidak menghargai sumber tulisannya,
3) memang tidak memahami teknisnya membuat clickable link.
IMO, saya melihatnya lebih pada kejujuran, pada kebanyakan kasus.
D*mn, jadi pengen nulis sesuatu di blog..
Memang sudah dari sananya kalau plagiat ya ga mungkin jujur.
Sebetulnya saya lebih suka fokus pada kreativitas dan pengembangan hal-hal baru daripada memerangi yang buruk. Tanpa diskusi terlalu dalam tentang law of attraction, karena evolusi akan secara otomatis menyaring informasi yang tidak memberikan nilai tambah kepada internet secara keseluruhan.
Google klaim dapat membedakan, tapi tidak jarang yang kopian yang berada di ranking lebih tinggi. Mungkin kita perlu memberikan beberapa waktu sebelum algoritmenya menjadi lebih efektif.
Tapi kadang jika tidak ada yang protes tentang keburukan itu, maka akan dianggap lumrah dan makin dimaklumi. Seperti mengijinkan hal buruk itu diperbuat kembali dan akan menimpa korban-korban yang baru.