Inikah Masa Depan Bisnis Publikasi?
Apakah akan bermanfaat jika menafsirkan masa depan bisnis publiskasi dengan melihat apa yang terjadi pada industri ini di negara-negara maju? Apakah anda tertarik dengan media baru yang akhirnya dapat dimulai oleh siapa pun dengan modal pas-pasan atau gratis?
Ya? Bagus sekali, karena tulisan ini seluruhnya berkisar pada topik itu.
Saya memang suka menulis. Sejak kecil saja telah mencoba menulis cerita pendek untuk majalah anak-anak. Hanya puisi dua bait — yang penulisannya memakan waktu beberapa hari — yang dimuat. Seiring berjalannya waktu ada juga beberapa artikel yang diterima oleh surat kabar lokal dan majalah komputer.
Memang, tidak ada yang perlu dibanggakan. Tapi faktor itulah yang saya yakini mendorong saya untuk memulai blog pada tahun 2004. Sebelumnya blog telah saya pakai untuk keperluan mencatat ide dan sebagai jurnal pribadi saya, yang saya instalasi pada jaringan lokal.
Sebenarnya saya tertarik dengan proses penerbitan. Pernah juga semasa kecil saya bercita-cita ingin menjadi seorang jurnalis. Keinginan itu semua melemah bersamaan dengan kesibukan saya pada masa kuliah.
Setelah tamat S1, saya bekerja sebagai sistem administrator. Suatu pekerjaan yang sangat saya nikmati walaupun karena masalah kesehatan sering ada beberapa gangguan.
Beberapa tahun kemudian, keputusan itu datang. Saya ingin memiliki bisnis sendiri. Kala itu saya sudah menjalankan sebuah bisnis sampingan menginstalasi server email, web dan jaringan lokal untuk perusahaan lain tapi saya ingin lebih.
Pendek cerita, pencarian saya berakhir pada sebuah model yang mana dapat dikatakan hampir sempurna. Blog ini misalnya. Selain hampir tanpa modal, kemampuannya untuk mencapai pembaca dari mana pun merupakan konsep yang sangat powerful.
Sebelumnya, izinkan saya membahas mengenai masa depan bisnis cetak. Sekali lagi pengalaman saya terbatas dalam industri ini, jadi sorotan saya akan difokuskan pada efek yang ditimbulkan oleh media online terhadap bisnis media cetak.
Apakah Bisnis Media Cetak Akan Mati?
Ini versi pendek jawaban saya. Tidak.
Johannes Gutenberg, penemu proses percetakan massal menggunakan tinta, memperkenalkan metode percetakannya sekitar tahun 1439. Beberapa ratus tahun stelah itu, setelah buku ada di mana-mana, tetap saja angka penduduk yang buta huruf mencapai belasan juta orang di Indonesia.
Jangankan bermain internet, bisa membaca dan memiliki beberapa buku saja merupakan suatu hal yang mewah.
Epifani ini saya dapat ketika membaca buku Leaving Microsoft to Change the World tentang seorang karyawan sukses Microsoft yang berhenti dari perusahaan raksasa tersebut untuk membantu sekolah-sekolah di Nepal untuk mendapatkan buku bermutu di sekolah.
Di dalam buku tersebut digambarkan bahwa perpustakaan mereka berisi beberapa buku lusuh, yang dikunci di dalam lemari seolah-olah merupakan barang berharga. Ada juga buku komik yang bagi mereka sama berharganya. Lainnya masih kosong melompong.
Sekarang organisasi nirlaba yang dimulai oleh John Wood tersebut telah mencapai beberapa negara selain Nepal, termasuk Sri Lanka, India, Laos, Vietnam, Kamboja dan beberapa negara Afrika. Saya berharap secepatnya mereka memperluas bantuannya ke Indonesia. (Baca selanjutnya di roomtoread.org.)
Dari cerita singkat tersebut, dapat dibayangkan tentang masa depan media cetak. Masih banyak penduduk yang membutuhkan buku murah atau gratis. Saya rasa lebih memungkinkan seseorang memiliki beberapa buku daripada sebuah perangkat komputer pribadi, walaupun akses Internet publik seharusnya disediakan juga di sekolah. Tapi itu topik dan tulisan yang lain.
Bagaimana dengan masyarakat yang gemar membaca majalah? Walaupun saya berusaha mengurangi pembelian buku dan majalah, saya dapat membayangkan kenyamanan duduk santai dan menghabiskan waktu membaca. Duduk di depan komputer tentu beda rasanya.
Belakangan Amazon juga merilis produk pembaca e-book yang bernama Kindle. Walaupun dapat menggantikan buku, tapi distribusinya akan memakan banyak waktu terutama di negara-negara seperti Indonesia.
Jadi kalau mau melihat buku dan majalah lenyap dari permukaan bumi, setidaknya harus menunggu beberapa waktu.
Imbas Internet Terhadap Media Cetak
Satu hal yang pasti adalah oplah dan distribusi untuk majalah dan surat kabar akan menurun terlebih dahulu. Mungkin tren ini telah berlangsung saat ini. Setidaknya demografik tertentu akan berpindah ke media internet. Dan kabar buruknya, demografik ini adalah segmen yang paling dicari karena tingkat pendapatan dan gaya hidupnya.
Biaya akses internet melalui mobile device akan turun. Sama seperti persaingan pulsa untuk sms dan menelpon dengan ponsel. Lebih banyak orang akan membaca headlines dan mengkonsumsi konten melalui komputer, BlackBerry, iPhone atau ponsel berbasis Android (opensource yang dicetuskan Google).
Anda tidak perlu percaya dengan apa yang saya katakan. Tapi pada 2010 yang akan segera datang, bisnis konten seluler diproyeksi 7 triliun rupiah. Total pengeluaran untuk konten akan naik, tapi dugaan saya sebagian dari pengeluaran ini pada awalnya dialokasikan untuk media yang lain.
Suka atau tidak, setiap orang hanya memiliki 24 jam sehari. Dengan hadirnya lebih banyak pilihan, dan kemampuan bagi konsumen untuk memilih konten yang mereka akses, maka mau tidak mau tren ini pasti berpindah.
Jadi tidaklah mengherankan jika majalah cetak mulai gencar memperluas jangkauan ke media online.
Berikut ini sebagian kecil data yang saya kumpulkan. Semoga dapat memberikan ilustrasi, setidaknya tentang industri media tradisional di luar negeri.
- Industri surat kabar AS kehilangan 7.5 milyar dolar dalam bentuk pendapatan iklan pada 2008.
- Surat kabar negara bagian Ohio, the Lantern, mengakhiri sirkulasi versi cetak dan hanya menerbitkan dalam bentuk online pada hari Jumat.
- Beberapa surat kabar versi cetak malah menghentikan operasinya. Seattle Post-Intelligencer, umpamanya, memiliki 117.600 pembaca pada hari kerja. Tentu saja, strategi baru mereka berpusat pada pengembangan portal berita dan informasi untuk regional tersebut.
- Di lain pihak, LA Times mengatakan bahwa pendapatan online media mereka dapat menutup semua biaya operasi surat kabar.
Tentu banyak lagi berita dan informasi sejenis yang muncul tiap hari. Bagi bisnis media cetak, ini tidak lain merupakan sinyal untuk mengganti atau mengubah strategi.
Tren Media yang Sedang Berlangsung
Pertama, untuk media cetak majalah dan tabloid, akan menjadi lebih penting untuk memfokuskan pada ceruk (niche) tertentu. Kalau dulu fotografi hanya akan dimasukkan ke dalam kolom hobi, sekarang ada majalah khusus untuk fotografi. Memusatkan topik membuat majalah itu lebih menggiurkan buat pembaca dan juga pemasang iklan.
Ivan di blog NavinoT, sebagai bagian dari Kontes Berpikir Kritis 2009, mewawancarai Yogi Praseya dari Mobile Magazine. Majalah tersebut menggunakan strategi lain dengan menggratiskan versi cetak. Majalah dengan informasi seputar dunia ponsel itu juga menyediakan versi online yang dapat diunduh secara gratis pula.
Koran nasional Kompas memperluas jaringan dan jumlah pembaca dengan mengembangkan situs Kompasiana dengan tag Journalist blog network. Situs itu dipergunakan sebagai wadah bagi jurnalis untuk menorehkan pikiran dan membuka kesempatan untuk mencapai pembaca yang mungkin tidak dapat dicapai melalui koran saja.
Lalu tentunya tidak ketinggalan jumlah blog yang bermunculan belakangan ini. Data Google Trends tentang WordPress.com, penyedia pelayanan blog gratis, menunjukkan Indonesia sebagai pengunjung kedua terbesar. Blogger dalam bahasia Indonesia di WordPress.com cuma 1.4 persen, tapi angka itu akan menanjak naik.
Perlu diperhatikan bahwa ada juga pelayanan blog lokal atau blogger yang memakai doamin sendiri untuk blog-nya, seperti tibidip.com. Jadi sesungguhnya jumlah blogger jauh lebih banyak.
Peran Blog Sebagai Media
Saya tidak dapat mengakhiri tulisan ini tanpa menyorot blogger.
Sudah saatnya blogger berpikiran seperti seorang penerbit. Walaupun dengan modal yang jauh terbatas, daya jangkau seorang blogger sama dengan yang lain. Memang kita tidak memiliki modal sebanyak sebuah perusahaan media cetak. Kita tidak dapat memasang iklan mahal, tapi setidaknya melalui informasi bukannya hal yang luar biasa untuk menjangkau pengunjung dari berbagai kota, bahkan internasional sekalipun.
Jika seorang blogger ada dekat lokasi kejadian tsunami pada tahun 2004, tebak siapa yang bakal lebih dulu meliput, seorang blogger atau media cetak? Jika kamera ponsel telah mewabah seperti saat ini, bukan saja informasi dapat dikirimkan tapi juga gambar.
Ada yang sedang mencari sanak saudara yang hilang sejak tsunami? Blogger dapat membantu, lebih efektif dan cepat. Suatu hal yang hampir tidak mungkin dilakukan media cetak.
MSNBC menyadari kekuatan citizen journalism. Situs itu mendorong orang untuk mengirimkan berita, video dan gambar tentang badai Katrina di AS. Demonstrasi kekuatan blog juga telah dibuktikan setiap hari dengan komentar yang dikontribusikan oleh pembaca blog.

Walaupun dalam cakupan yang kebanyakan lebih terbatas, bukan berarti jumlah pembaca lebih sedikit. Pada tahun 2005 saja, menurut Technorati — sebuah mesin pencari blog, jumlah pemakai internet yang memasang taut ke blog populer Boing Boing malah lebih daripada beberapa mainstream media seperti USA Today, Fox News and Reuters.
Statistik lain menunjukkan bahwa jumlah blogger di AS tahun ini akan mencapai 27.9 juta dan akan terus meningkat.
Penduduk yang membaca blog juga akan hampir setengah dari total penduduk yaitu pada tahun 2009 mencapai 96.6 juta. Saya memprediksi tren yang sama akan terjadi di Indonesia, walaupun secepat apa menjadi kenyataan tergantung banyak hal yang tidak dapat kita tebak.
Bukan lagi rahasia bahwa jurnalis untuk mainstream media sering kali mempergunakan blog sebagai referensi dan informasi tambahan.
Apa makna angka-angka ini untuk blogger pribadi seperti saya (dan mungkin anda)?
Ini adalah kesempatan bagi individu maupun kelompok untuk memulai “publikasi.” Seperti yang telah saya singgung, fokus ke ceruk tertentu akan menjadi semakin penting. Hal ini berarti seorang blogger pun akan mampu menjadi seorang penerbit kecil-kecilan dan memperolah pembaca dari seluruh tanah air bahkan luar negeri.
Apa yang dapat anda perbuat dengan pengunjung tersebut tentu saja terserah anda, karena pada dasarnya mereka itu orang yang sama yang sehari-harinya mencari informasi dan membeli barang di toko dan mal. Mengapa tidak menarik mereka untuk berbelanja online. Atau setidaknya, untuk saat ini yang masih cukup efektif, menjual lokasi untuk iklan?
Evolusi ini memang sedang berlangsung. Sangat menarik untuk diperhatikan.
Bagaimana pendapat anda?

Numpang baca-baca dulu dong…
Sebuah ulasan yang menarik. Namun, menurut saya, ada baiknya tulisan yang panjang di atas dibuat menjadi (setidaknya) dua buah tulisan supaya gak terlalu capek bacanya.